Hotman Paris Katakan Pelaku Audrey Minimal Penjara 5 Tahun!

Viral – Pengacara Kondang, Hotman Paris mengungkapkan bahwa mengenai hasil visum dari Audrey siswi SMP yang menjadi korban penganiayaan 12 siswi SMA dari Pontianak.

Dalam unggahan di akun pribadi miliki, Hotman Paris yang tentang hasil visum Audrey tersebut. Dimana pengacara kondang tersebut memberikan peringatan kepada pihak setempat untuk berhati-hati dengan visum.

Karena menurut Hotman Paris sendiri bahwa dengan hati-hati melakukan hasil visum tersebut menentukan nasib kelanjutan dari kasus Audrey yang dikeroyok oleh 12 siswi SMA di Pontianak.

Pengacara yang kini berusia 59 tahun itu mengatakan bahwa setiap pihak-pihak yang diduga terkait akan diperiksa dalam penyelidikan oleh polisi, maka dari itu ia mengatakan kembali pentingnya hasil dari visum tersebut.

Tak hanya sampai disitu saja, Hotman Paris sendiri juga sudah sempat berbicara dengan kakek Audrey, yang menjadi keluarga dari korban penganiayaan 12 siswi SMA tersebut.

Dalam percakapan tersebut, kakek Audrey mengatakan bahwa sang cucu merasa cukup kesakitan di daerah tertentu di sekitar tubuhnya saat diperiksa di rumah sakit.

“Saya sudah sempat menelpon kakeknya Audrey. Kakek Audrey mengungkapkan bahwa cucunya mengalami keluhan di bagian tertentu ketika di cek rumah sakit.” pungkas Hotman Paris.

Ia juga menegaskan bahwa terduga pelaku yang melakukan penganiayaan siswi SMP di Pontianak itu harus menerima hukuman minimal 5 tahun penjara dan akan segera diperiksa serta ditahan dalam waktu dekat ini.

Kombes M Anwar Nasir yang menjadi Kapolresta Pontianak, mengatakan dirinya telah menerima hasil visum, dimana terjadi pembengkakan di kepala koraban. Kondisi mata dari korban tidak ditemukan memar dan pengelihatan korban juga normal.

Sedangkan untuk telinga, hidung, tenggorokan (THT) tidak ditemukan darah.

“Kemudian dada tampak simetris tak ada memar atau bengkak, jantung dan paru dalam kondisi normal,” katanya.

Kondisi perut korban, sesuai hasil visum tidak ditemukan memar. Bekas luka juga tidak ditemukan.

“Kemudian organ dalam, tidak ada pembesaran,” jelasnya.

Untuk bagian alat kelamin selaput dara dari korban tidak terdapat luka robek maupun memar.

“Hasil dari perkiraan hasil pemeriksaan dan terapi pasien, mengungkapkan bahwa awal depresi pasca trauma,” tutup Kombes M Anwar Nasir.